© 2003 Kudrat
Sunandar
Posted: 4 November 2003
Pengantar Falsafah Sains (PPS702)
Program Pascasarjana/S3
Institut Pertanian Bogor
November 2003
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
Prof.
Dr. Ir. Zahrial Coto
ANALISIS BILANGAN TAK BERDIMENSI PADA PROSES FOULING DI
KONDENSER
Oleh:
E-mail: k_sunandar@yahoo.com
A B S T R A C T
The paper confines fouling
as a particulate fouling on tube in a shell and tube heat exchanger: condenser. Fouling can be defined as the
formation of deposits on heat transfer surfaces and it increased the pressure drop of fluids over the surface. Then,
particulate fouling in this case is CaSO4 scaling is the
accumulation of solid particles suspended in a fluid onto a heat transfer
surface. Suspended particles can be ambient pollutants (sand, silt, clay),
upstream corrosions products or products of chemical reactions occurring within
the fluid. This phenomenon exists since heat exchanger was found.
Heat exchanger performance
depends on heat transfer between two working fluids, and the existence of
fouling will decreased its performance. Up to now, fouling is a difficult
phenomenon to understand its characteristics, engineers concerned with heat
transfer in a particular interest in conserving energy.
Determination of fouling factor with ordinary equations needs
time. Non-dimensional number analysis with Buckingham
P-theorem is one of some
effective methods to make a faster and right decision of cleaning schedule’s
prediction. The number
named by Ks. According with input and output data during the process for
26 hours, it showed that there is a linear correlation between
fouling factor Rf and Ks number, Ks
= -0.0121 Ks* + 0.0172
PENDAHULUAN
Fouling sudah menjadi masalah sejak
alat penukar kalor ditemukan. Fouling dapat didefinisikan sebagai pembentukan
lapisan deposit pada permukaan perpindahan
panas dari suatu bahan atau
senyawa yang tidak diinginkan. Pembentukan lapisan deposit ini akan terus berkembang selama alat
penukar kalor dioperasikan. Akumulasi
deposit pada permukaan alat penukar kalor menimbulkan kenaikan pressure drop dan menurunkan efisiensi perpindahan panas. Untuk menghindari penurunan performance alat penukar kalor yang terus berlanjut dan terjadinya unpredictable cleaning, maka diperlukan
suatu informasi yang jelas tentang
tingkat pengotoran untuk menentukan
jadwal pembersihan (cleaning schedule).
Keterlibatan
beberapa faktor diantaranya jenis alat
penukar kalor, jenis material yang dipergunakan dan fluida kerja : jenis
fluida, temperatur fluida, laju alir masa, jenis dan konsentrasi kotoran yang
ada dalam fluida, dll., menjadikan fouling suatu masalah yang
sangat kompleks, sehingga dalam melakukan pengukuran tingkat pengotoran ini menjadi sulit, oleh karena itu
diperlukan suatu teknik analisa yang
dapat mempermudah dan mempercepat
pengukuran tersebut, diharapkan
dengan bantuan teori bilangan tak
berdimensi kesukaran pengukuran ini
dapat dikurangi.
Alat
penukar kalor yang ditinjau adalah jenis shell
and tube heat exchanger : condenser dengan
jumlah pass satu, yang ada pada unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)
Tanjung Priuk Jakarta. Karena
kompleksitas besarnya pengotoran sangat tinggi maka permasalahan ini didekati
hanya dengan menganggap bahwa pengotoran terjadi pada bagian tube sebagai particulate fouling dengan fluida kerja air laut sebagai fluida pendingin.
LATAR
BELAKANG TEORI
FOULING
Fouling dapat didefinisikan sebagai
pembentukan deposit pada permukaan alat penukar kalor yang menghambat perpindahan
panas dan meningkatkan hambatan aliran fluida pada alat penukar kalor tersebut
[3]. Gejala ini sudah ada sejak ditemukannya api. Tidaklah sulit untuk
membayangkan betapa terganggunya nenek moyang kita karena semakin lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk merebus air sebagai akibat dari furring atau penutupan
bagian dalam ketel. Jelaslah bahwa fouling
sudah mengalami sejarah yang panjang [1] dan fouling masih tetap mempunyai pengaruh yang penting pada efisiensi
perubahan energi, pada pemilihan material yang digunakan dalam konstruksi
alat-alat penukar kalor dan pada operasi proses-proses industri [2].
Lapisan fouling dapat berasal dari
partikel-partikel atau senyawa lainnya yang terangkut oleh aliran fluida.
Pertumbuhan lapisan tersebut dapat meningkat apabila permukaan deposit yang
terbentuk mempunyai sifat adhesif yang cukup kuat.
Gradien temperatur yang cukup besar
antara aliran dengan permukaan dapat
juga meningkatkan kecepatan pertumbuhan deposit [3]. Pada umumnya proses
pembentukan lapisan fouling merupakan phenomena yang sangat kompleks sehingga
sukar sekali dianalisa secara analitik. Mekanisme
pembentukannya sangat beragam, dan metode-metode pendekatannya juga
berbeda-beda.
Berdasarkan
proses terbentuknya endapan atau kotoran, faktor pengotoran dibagi 5 jenis [2],
yaitu :
1. Pengotoran
akibat pengendapan zat padat dalam larutan (precipitation
fouling).
Pengotoran
ini biasanya terjadi pada fluida yang mengandung garam-garam yang terendapkan
pada suhu tinggi, seperti garam kalsium sulfat, dll.
2. Penegotoran
akibat pengendapan partikel padat dalam fluida (particulate fouling).
Pengotoran
ini terjadi akibat pengumpulan partikel-partikel padat yang terbawa oleh fluida di atas permukaan perpindahan panas,
seperti debu, pasir, dll.
3. Pengotoran
akibat reaksi kimia (chemical reaction
fouling).
Pengotoran terjadi akibat reaksi kimia didalam fluida,
diatas permukaan perpindahan panas, dimana material bahan permukaan perpindahan
panas tidak ikut bereaksi, seperti adanya reaksi polimerisasi, dll.
4. Pengotoran
akibat korosi (corrosion fouling).
Pengotoran
terjadi akibat reaksi kimia antara fluida kerja dengan material bahan permukaan
perpindahan panas.
5. Pengotoran
akibat aktifitas biologi (biological
fouling).
Pengotoran
ini berhubungan dengan akitifitas organisme biologi yang terdapat atau terbawa
dalam aliran fluida seperti lumut, jamur, dll.
Akibat
pembentukan fouling tersebut, maka kemampuan alat penukar kalor akan mengalami
penurunan. Dalam beberapa kasus, pembersihan lapisan fouling dilakukan secara
kimia dan mekanis. Salah satu cara mekanis yang umum dilakukan adalah dengan
metode on-line cleaning dengan menggunakan bola taprogge.
Gambar 2. Proses Pembersihan
Fouling Pada suatu Kondonser
(a) (b)
Gambar 3. Bola Taparogge (a) baru, (b) setelah pemakaian
Kualitas air laut sebagai fluida
pendingin memegang peranan yang sangat
penting dalam permasalahan pengotoran
tersebut. Jumlah kandungan garam dari
air laut sering dinyatakan sebagai salinitas,
secara umum besarnya salinitas air laut yang ada di indonesia khususnya di
daerah Jakarta berkisar antara 32 sampai 36 % [5]. Selain diakibatkan garam-garam terlarut dalam air
laut diantaranya garam magnesium, kalsium dan natrium, pengotoran ini juga ditimbulkan oleh tumbuhan dan binatang laut yang banyak tumbuh di
terumbu karang sekitar pantai jakarta.
Sehingga penentuan lokasi intake
dan pre-treatment air laut sebelum masuk kondenser menjadi
sangat penting.
ANALISA BILANGAN TAK BERDIMENSI
Dalil P Buckingham membuktikan bahwa, dalam suatu soal fisik
yang menyangkut n besaran dimana
terdapat k dimensi, besaran-besaran
tersebut dapat diatur dalam n - k parameter tanpa dimensi yang bebas [4]. Dalam suatu sistim yang melibatkan
beberapa parameter dapat dinyatakan dalam n
parameter, q1, q2, …….qn, sehingga sifat sistim tersebut dapat
dinyatakan sebagai suatu hubungan
fungsional beberapa parameter :
F1 (q1,q2,q3,….qn) = 0 (1)
Jika P1, P2, P3, …,
menunjukkan kelompok-kelompok tanpa dimensi dari besaran-besaran q1,q2,q3,….,
maka dengan tersangkutnya m
dimensi, terdapat persamaan yang berbentuk :
G1(P1, P2, P3, ……..Pn-k) = 0 (2)
Beberapa
parameter yang terlibat dalam proses perpindahan panas yang dijadikan
sebagai parameter yang berhubungan dengan pembentukan pengotoran diantaranya
: temperatur fluida, laju alir massa fluida, kapasitas panas fluida, dimensi
alat penukar kalor, koefisien perpindahan panas , konsentrasi pengotor dalam
fluida dan lain-lain. Bilangan
yang dihasilkan selanjutnya akan diberi simbol dengan nama Ks.
METODOLOGI
Untuk mendapatkan suatu bilangan tak
berdimensi Ks. yang cukup representatif dengan data yang bisa dibaca baik
langsung maupun tidak langsung dari sebuah keluaran suatu proses kondensasi
dalam sebuah kondenser, diperlukan suatu informasi yang saling berhubungan.
Data yang diperlukan adalah data fisik
kondenser serta data input dan
output selama proses berlangsung.
Sehubungan dengan hal tersebut, dilakukan dengan
cara membentuk bilangan tak berdimensi
Ks, yaitu : Metode Buckingham P- theorm dan menggunakan data operasinal sebuah kondenser di
sebuah pembangkit listrik tenaga uap selama
26 jam operasi.
DATA DAN ANALISA DATA
Untuk
mempermudah dalam melakukan analisa, data keluaran proses dikelompokan dalam
suatu tabel dan disusun menjadi persamaan-persamaan empiris bilangan tak
berdimensi.
Besaran |
Satuan |
Lambang |
Dimensi |
Kecepatan
aliran air laut |
m/detik |
Vcf |
LT-1 |
Temperatur
air laut masuk |
oC |
Tin |
q |
Temperatur kondensasi |
OC |
Tcond |
q |
Jumlah
air laut masuk |
kg/h |
Mcf |
MT-1 |
Jumlah steam masuk |
kg/h |
Ms |
MT-1 |
Panas
spesifik air laut |
J/mol.K |
Cp |
L2T-2q-1 |
Viskositas air laut |
Kg/m.det |
m |
ML-1T-1 |
Densitas
air laut |
Gram/liter |
r |
ML-3 |
Temperatur
dinding tube |
oC |
Tw |
q |
Waktu |
Jam |
t |
T |
Kelarutan
key component dalam air laut |
Gram/liter |
S |
ML-3 |
Terdapat 11 kuantitas fisika dengan 4 dimensi
fundamental, sehingga menurut teori Buckingham, masalah ini dapat dikendalikan
oleh 11 - 4 = 7 faktor-faktor non dimensional dimana diketahui dalam bentuk suatu
hubungan fungsional yang sama dengan persamaan (2) :
P7= F ( P1, P2, P3, P4, P5, P6,)
= 0 (3)
Dengan mengambil empat faktor-faktor seperti grup pada
persamaan (3) sehingga grup mengandung semua dimensi-dimensi fundamental yang
mengendalikan fenomena fisik dan mensubstitusikan formula dimensional.
Misalnya
untuk menentukan nilai P1 :
P1 :
mcfa, Sb,
Twc, td, ms = (MT-1)a
(ML-3)b (q)c
(T)a MT-1= 0
Untuk
menjadikan P
tak berdimensi, pangkat dari setiap dimensi primer jumlahnya secara terpisah
adalah 0. Kemudian sebuah persamaan dapat kita susun menjadi :
SM : 0 = a + b
+ 1
SL : 0 = a + -3b
ST : 0 = -a + d
- 1
Sq :
0 = c
Pemecahan persamaan diatas memberikan nilai :
a = -1, b
= 0, c = 0, d = 0
Sehingga P1
dapat dituliskan sebagai :
P1 =
(4)
Dengan
cara yang sama, ms diganti dengan Vcf, Cp, m, r, Tin, dan Tcond untuk
berturut-turut P2, P3, P4, P5, P6, dan
P7 formula
fungsinya menjadi :
F()
Atau dapat dinyatakan sebagai :
Dengan
data-data yang diprolehs eperti tampak pada apebdiks 1, maka konstanta z dan koefisien a,b,c,d,e dan f dapat
diselesaikan, sehingga persamaannya menjadi :
Dari hasil pengolahan data dan pembentukan
bilangan tak berdimensi Ks, maka dapat dilhat bahwa ada suatu korelasi
sederhana yang menghubungankan antara
bilangan Ks terhadap bilangan Rf. Karena besarnya nilai faktor
pengotoran Rf berkisar diantara nol dan satu, maka dilakukan koreksi nilai
terhadap Rf. Hubungan Ks terkoreksi tampak
dibawah ini.
KESIMPULAN
Dari analisa data pengamatan selama 26 jam
operasi, pengolahan dan perhitungan data dapat disimpulkan bahwa ada suatu
korelasi linear antara besarnya faktor pengotoran Rf dengan bilangan Ks,
sehingga bilangan Ks dapat dipakai sebagai salah satu cara menentukan besarnya
faktor pengotoran pada shell and tube heat exchanger. Persamaan
yang memenuhi korelasi tersebut adalah :
Ks = -0.0121 Ks* + 0.0172
Dengan
Ks* =
Ks* = 0 menunjukkan faktor pengotoran maksimum
Ks* = 1 menunjukkan faktor pengotoran minimum
DAFTAR
PUSTAKA
1. Somerscales,
E.F.C., "Fouling of Heat Transfer Surfaces:An Historical Rview", Heat
Transfer Engineering, vol.:11, no.:1, 19-36, New York, (1990).
2. Hans
Műller-Steinhagen.,"Fouling
of Heat Exchanger Surfaces",Chemistry
and Industry,(1995).
3.
Chandrasa,S dan
Antonius Anton.,"Pengaruh Karakteristik Dinamik Tahanan Termal Deposit
Terhadap Kinerja Sebuah Condenser", Proceedings The 2000 FTUI
Seminar-Quality in Research,vol.:III, III-1-4-1 s.d III-1-4-9, Jakarta, (2000).
4. Boris,
O.K., "Kajian Kalor Yang Hilang Pada Aliran Paralel Alat Penukar Kalor
Pipa Ganda",Tugas Akhir, Jurusan Mesin FT-UI,Jakarta, (2000).
5.
Sulaiman, A. "Air Laut.", Lembaga Metallurgi Nasional, LIPI,
Jakarta,(1977